Rabu, 16 November 2011

Curhat Terbaru Dewiq

pic: gadogado.com


Siapa yang tidak mengenal Dewiq berarti dia tidak pernah jatuh cinta. Hampir semua lagu-lagu ciptaannya menggambarkan gejolak hati tentang cinta dan segala rasa yang meliputinya.




Link diatas adalah lagu curhatan Dewiq terbaru tentang kekecewaan hati yang ditinggalkan. Dinyanyikan oleh pendatang baru, Kenie. Liriknya daleeemmm... hiks..


Kamu putuskan untuk sendiri
Kamu putuskan tinggalkan aku
Bila baik untukmu
Biarlah akan kuterima

Tiada niatku untuk memaksa
Apa yang sudah kamu inginkan
Tapi pikirkan lagi
Pantaskah aku dilupakan

Kalau tak ada aku..
Siapa nanti yang kan menjaga kamu..
Kalau tak ada aku..
Siapa nanti yang menyayangi kamu..

Hanyalah cinta yang aku punya
Mungkin tak cukup untuk hatimu
Singkirkanlah diriku
Bila pasti baik untukmu

Tiada niatku untuk memaksa
Apa yang sudah kamu inginkan
Tapi pikirkan lagi
Pantaskah aku dilupakan

Kalau tak ada aku..
Siapa nanti yang kan menjaga kamu..
Kalau tak ada aku..
Siapa nanti yang menyayangi kamu..

Slalu..
Kulakukan dengan cinta..
Ingatlah itu dihatimu..



Lagu-lagu Dewiq lainnya:






Sabtu, 17 September 2011

Insha Allah

my favorite vocalist, Fadli Padi duet with Maher Zain. Beautiful voices. Beautiful song.




Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap
Allah selalu disisimu

Insya Allah.. Insya Allah.. Insya Allah..
ada jalan..
Insya Allah.. Insya Allah.. Insya Allah..
ada jalan..

Every time you commit one more mistake
You feel you can't repent and that its way too late
You're so confused
Wrong decisions you have made
Haunt your mind
and your heart is full of shame
But don't despair and never lose hope
cause Allah is always by your side

Insha Allah.. Insha Allah.. Insha Allah..
you'll find your way
Insha Allah.. Insha Allah.. Insha Allah..
ada jalan..

Turn to Allah
He's never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray

Oh ya Allah
Tuntun langkahku di jalanmu
Hanya Engkaulah pelitaku
Tuntun aku di jalanmu..
Selamanya..


Rabu, 14 September 2011

Berbahasa Satu Bahasa Indonesia

Sebagai orang (pendatang) yang lahir dan besar di Jakarta, saya merasa beruntung tidak mendapat pelajaran tambahan bahasa daerah di sekolah. Bahasa daerah di Jakarta ya bahasa negara, bahasa Indonesia. Meskipun demikian, lingkungan keluarga besar saya berasal dari berbagai suku yang berbeda yaitu Jawa, Sunda, Madura, Minang, Menado dan Makassar. Keberagaman terasa saat acara-acara keluarga. Dialek, celetukan dan percakapan antar daerah berseliweran di sana-sini.

Karena lebih seringnya menggunakan bahasa dalam forum informal, bahasa Indonesia yang saya pergunakan tidaklah baik dan benar. Blogging, texting, bbm turut “melemahkan” kemampuan tersebut. Otak dan jemari saya otomotis menulis yg, tdk, utk, gak, blh, daripada yang, tidak, untuk, tidak, boleh. Sementara percakapan di rumah pun bercampur dengan bahasa daerah dan kaedahnya. Contoh penggunaan kalimatnya:

*Air di ceret udah umup. (umup = mendidih)

*Udah siap masak tibanya dikirimi makanan. Batal masaknya. (tiba = tidak disangka)

*Bandanya banyak juga ya. (banda = harta)

*Pengen rebahan dulu sebentar. (rebahan = tidur-tiduran)

*Kalau migren enaknya ditidurin. (ditidurin = pergi tidur)

*Tadi adik tidur dibangunan. (dibangunan = dibangunkan/terbangun)

Kerutan di kening anak saya menyadarkan bahwa lembaran putih di otaknya akan merekam semua kesalahan itu dan menerapkannya. Adalah baik menggunakan bahasa daerah namun akan lebih baik bila kita menggunakannya dalam kaedah berbahasa yang benar. Bahasa Indonesia yang kita gunakan pun akan terdengar lebih indah. Yang pasti, tidak akan terjadi kesalahpahaman arti bahasa seperti ini:

Kakak: "Sarah, mau makan apa, mi?" (dialek Makassar)

Sarah: "Aku tidak mau makan mie..."

J


Rabu, 13 April 2011

Secarik cinta untuk sahabat

Cantik,

Jangan pernah tundukkan kepalamu
Jangan pernah basahi matamu dengan air mata
Sibak rambut ikalmu
Sapukan lagi lipstik itu ke bibirmu



Dunia masih luas membentang
dengan seribu keindahan dan keramahan
seindah matamu
seramah senyummu

Jangan pernah menoleh ke belakang
Mungkin ini memang suratan
dengan beribu rencana indah sesudahnya

Tetap tabah, Cantik

Aku menyayangimu

Sungguh


Published on Facebook: July 29, 2009 at 11:51
pic: Jessica Sz0hr from http://crazycurlyhair.tumblr.com/

Usia Bagi Wanita

Jangan pernah menanyakan berapa usia seorang wanita tanpa jelas tujuannya dan tanpa disertai kata maaf. Tidak sopan. Jika mau aman, taksir saja usianya, kurangi lima sampai sepuluh tahun. Lalu ketika ia menyebutkan usianya, pasang muka terkejut sambil bilang, “Really?? Awet muda ya, jeng... Boleh dong bagi-bagi resepnya..”

Mengapa usia begitu sensitif bagi wanita?

Seperti yang kualami hari ini. Seorang wanita berbisik ketika petugas menanyakan usianya untuk keperluan medis. Ketika petugas memintanya mengulangi, ia menjawab dengan agak gusar, “Duuh... 36! Apa perlu saya ngomong pake toa?” Uppss!!

Atau pernah seorang teman gusar ketika muncul kerut2 halus di seputar matanya. “Duuh.. tanda-tanda penuaan niiy.. Susah deh kalo umur udah kepala 3!”

Tak perlu dijelaskan berapa banyak yang semua wanita lakukan, termasuk diriku, untuk menutupi usia. Mengecat rambut, mendempul tebal wajah, mengoles berbagai macam krim anti aging, atau hanya sekedar memakai baju trendy ala remaja sampai suntik colagen, botox, dan face lift.

Tapi pernahkan kita berhenti sejenak dan berpikir mengapa kita melakukan itu? Pernahkah kita berpikir bahwa kita tidak bisa selamanya bertopeng kosmetik? Beranikah kita mencoba untuk jujur pada diri sendiri dan menerima proses penambahan usia yang terjadi pada kita?



Aku berani. Karena aku yakin.
Aku dinilai karena integritasku. Bukan karena kosmetikku. Bukan karena usiaku.

Aku wanita.
Dengan cuatan uban di sana-sini. Dengan kulit muka yang mulai menurun dan lipatan lemak sisa melahirkan.

Aku 35 tahun.

Kamu?


Published on Facebook: April 25, 2009 at 23:34
pic: www.stylishandtrendy.com


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...