“Mas Indra?”
Suara cempreng di tengah hingar bingar musik café itu seperti kukenal.
“Mas Indra lupa sama Ajeng? Sombong deeh!”
Kuperhatikan gadis di depanku. Kulit terbakar matahari dengan rambut kemerahan. Poni miring. Mata coklat. Modis.
“Iiih, Mas Indra! Apa aku harus bilang kamu punya tai lalat di ketek kanan supaya kamu percaya?”
Senyumku melebar. “Ajeeng… Wow! You look hot!”
“Lebih hot dari gadis kampung bekas pacarmu?"
Ajeng dulu berkulit putih halus, rambut hitam sepunggung. Pacarku semasa kuliah di Solo. Sederhana. Pemalu.
“Kamu masih ganteng, Mas.” Senyumnya menggoda. Mungkin pergaulan Jakarta merubahnya.
Obrolan mengalir seperti air. Silih berganti dengan kentang goreng, kacang dan bir.
“Kok kamu belum kawin, Jeng? Sudah 35 lho!”
Deretan gigi rapi mengintip dari balik bibirnya. “Kamu yang 37 juga santai.”
“Tapi Bapakku di kampung mulai panik. Bulan lalu aku dikenalkan sama anak pak Kadus.”
“Cantik mana sama aku?”
“Kalau didandani seperti anak Jakarta, mungkin lebih ayu dari kamu.”
“Huu...” Bibirnya manyun. Masih seperti dulu. Manja.
“Memangnya kamu ga punya pacar, Mas?”
“Namanya Dwi. Tapi mungkin Bapak ga setuju.”
“Memangnya kamu bisa kawin sama orang yang baru kamu kenal?”
“Kasihan Bapak sakit-sakitan terus, Jeng. Mungkin kalau aku sedikit kompromi, Bapak bisa lebih tenang dan ga banyak pikiran.”
Tangannya mengusap lembut punggung tanganku. “Kamu anak baik, Mas.”
“Lantas apa alasan kamu masih single?” Wanita secantik kamu sepantasnya sudah lama dipinang orang dan mungkin sudah beranak tiga.
Asap putih keluar dari bibir sexynya. “Orang tuaku ga setuju sama pilihanku. Dan aku belum siap mengalah demi keluarga.”
“Mengalah bagaimana? Putus dari pacar atau kawin tanpa cinta?”
“Both.”
Kebetulan. “Kamu mau kawin sama aku, Jeng?”
Alis kirinya naik. “What??”
“Aku harus menyenangkan hati Bapak. Kamu juga harus menjaga harga diri keluarga. Kalau setelah menikah aku masih bareng sama Dwi dan kamu sama pacarmu, ga apa-apa kan? Toh kehidupan perkawinan kita hanya kita yang tau.”
“Edan!”
“Apa ga lebih edan kalau kita selalu menjadi kambing hitam karena kita belum kawin?”
Ajeng terdiam. Rokok semakin dalam dihisapnya. “Jadi kamu siap kawin bohongan?”
“Tergantung. Kamu masih malu-malu ga kalau minta cium?”
Kami tertawa mengenang masa lalu yang lugu.
“Siapa nama pacarmu?”
“Kris.”
“Dia ga cemburu kalau kita kawin?”
“Kayaknya ga.” Ajeng membuka agenda kerja dan menyodorkan sebuah foto padaku. “This is Kris. I’m lesbian.”
Mantan pacarku tidak lagi mencintai laki-laki. Great.
“By the way, Dwi ga cemburu kalau kita kawin?”
Aku tertawa lebar. “That’s ok.” Kucabut foto Dwi dari dompet.
“By the way, I’m gay.”
Published on Friendster June 5, 2006 at 10:01 pm