
Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang kan menjaga kamu..Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang menyayangi kamu..
Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang kan menjaga kamu..Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang menyayangi kamu..

Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang kan menjaga kamu..Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang menyayangi kamu..
Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang kan menjaga kamu..Kalau tak ada aku..Siapa nanti yang menyayangi kamu..
Sebagai orang (pendatang) yang lahir dan besar di Jakarta, saya merasa beruntung tidak mendapat pelajaran tambahan bahasa daerah di sekolah. Bahasa daerah di Jakarta ya bahasa negara, bahasa Indonesia. Meskipun demikian, lingkungan keluarga besar saya berasal dari berbagai suku yang berbeda yaitu Jawa, Sunda, Madura, Minang, Menado dan Makassar. Keberagaman terasa saat acara-acara keluarga. Dialek, celetukan dan percakapan antar daerah berseliweran di sana-sini.

Karena lebih seringnya menggunakan bahasa dalam forum informal, bahasa Indonesia yang saya pergunakan tidaklah baik dan benar. Blogging, texting, bbm turut “melemahkan” kemampuan tersebut. Otak dan jemari saya otomotis menulis yg, tdk, utk, gak, blh, daripada yang, tidak, untuk, tidak, boleh. Sementara percakapan di rumah pun bercampur dengan bahasa daerah dan kaedahnya. Contoh penggunaan kalimatnya:
*Air di ceret udah umup. (umup = mendidih)
*Udah siap masak tibanya dikirimi makanan. Batal masaknya. (tiba = tidak disangka)
*Bandanya banyak juga ya. (banda = harta)
*Pengen rebahan dulu sebentar. (rebahan = tidur-tiduran)
*Kalau migren enaknya ditidurin. (ditidurin = pergi tidur)
*Tadi adik tidur dibangunan. (dibangunan = dibangunkan/terbangun)
Kerutan di kening anak saya menyadarkan bahwa lembaran putih di otaknya akan merekam semua kesalahan itu dan menerapkannya. Adalah baik menggunakan bahasa daerah namun akan lebih baik bila kita menggunakannya dalam kaedah berbahasa yang benar. Bahasa Indonesia yang kita gunakan pun akan terdengar lebih indah. Yang pasti, tidak akan terjadi kesalahpahaman arti bahasa seperti ini:
Kakak: "Sarah, mau makan apa, mi?" (dialek Makassar)
Sarah: "Aku tidak mau makan mie..."
J



Jam dua pagi. Aku masih tercenung menatap langit-langit. Mencoba memahami kegelisahan hati. Kekosongan jiwa.
Dalam remang lampu, aku menoleh. Menatap bantal empuk ditiduri. Rambut ikal menutup wajah terlelap. Bibir tipis dengan suara yang keluar darinya. Me? Ngorok? tanyamu suatu saat. Oh yes, honey. Loud and clear.
Tubuhnya berbalik. Membelakangiku. Ngoroknya berhenti. Berganti suara jangkrik dari tengah sawah sana.
Kamu tau?
Aku ingat kamu.
Di setiap aku berkedip. Mencoba melepas bayangmu. Setiap aku terpejam, mengingat hangat pelukmu. Setiap aku tersenyum, mengenang lekuk bibirmu.
Kupeluk bantal empuk seerat mungkin. Berharap hangatnya sampai padamu. Ribuan kilometer di sana.
Kuciumi bantal empuk dengan lembut. Mencari sisa yang tertinggal. Harum rambutmu. Wangi lotionmu. Bau ilermu.
Miss you.
So much.

___
untuk yang kangen karena terpisah.
Published on Friendster: March 21, 2008 at 8:47 am
pic by Yuri Arcurs on www.123rf.com

benarkah hanya jarak yang memisahkan kita?
(bukan orang ketiga atau matirasa?)
waktu telah lancang telang menghimpun
seluruh perasaan yang diam-diam
kutabung untukmu
bahwa ketika suatu saat kado ini kubuka
persis di depan bola matamu
yang menyembunyikan gemerlap?
adalah tentang kangen semata
ini juga milikku
satu kangen yang tidak bergeser
dari alamatmu
(by Dian. Old diary, April 1991, 08:40 pm)
Published on Friendster: August 27, 2007 at 1:49 am
pic by Andreja Donko on www.123rf.com
Kutepuk-tepuk perutku yang masih membuncit. Terasa penuh angin sejak kemarin.
Tuut... Tuuuuut...
Aku mendongak. Menatap tubuh kecil di hadapanku yang asyik menggeliat. "Sarah kentut ya?"
Mulut kecilnya mengerucut. Matanya membelalak lucu ke arahku kemudian berpaling ke kiri ke kanan.
"Iiih... Sarah kentuut! Bau lagi!"
Tut-tut... Tuut... Tuuuuut...
Tubuh kecil itu bergetar. Tangannya terangkat ke atas. Kaget. Matanya kembali menatapku.
"Hehehe... Maaf! Ibu juga lagi kembung."
Mata itu menyipit. Bibirnya terbuka.
Wow! That's her 1st real smile!
Aku tertawa.
Kami tertawa. Bersama.
What a beautiful day today!
Published on Friendster: June 8, 2007 at 3:43 am
In my daughter's eyes I am a hero
I am strong and wise and I know no fear
But the truth is plain to see
She was sent to rescue me
I see who I wanna be
In my daughter's eyes
In my daughter's eyes everyone is equal
Darkness turns to light and the
world is at peace
This miracle God gave to me gives me
strength when I am weak
I find reason to believe
In my daughter's eyes
And when she wraps her hand
around my finger
Oh it puts a smile in my heart
Everything becomes a little clearer
I realize what life is all about
It's hangin' on when your heart
has had enough
It's giving more when you feel like giving up
I've seen the light
It's in my daugter's eyes
In my daughter's eyes I can see the future
A reflection of who I am and what will be
Though she'll grow and someday leave
Maybe raise a family
When I'm gone I hope you see how happy
she made me
For I'll be there
In my daughter's eyes
Martina McBride, 2003, album: Martina
Did I disappoint you or let you down?
Should I be feeling guilty or let the judges frown?
'Cause I saw the end before we'd begun,
Yes I saw you were blinded and I knew I had won.
So I took what's mine by eternal right.
Took your soul out into the night.
It may be over but it won't stop there,
I am here for you if you'd only care.
You touched my heart you touched my soul.
You changed my life and all my goals.
And love is blind and that I knew when,
My heart was blinded by you.
I've kissed your lips and held your hand.
Shared your dreams and shared your bed.
I know you well, I know your smell.
I've been addicted to you.
[x2]
Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.
I am a dreamer and when i wake,
You can't break my spirit - it's my dreams you take.
And as you move on, remember me,
Remember us and all we used to be
I've seen you cry, I've seen you smile.
I've watched you sleeping for a while.
I'd be the father of your child.
I'd spend a lifetime with you.
I know your fears and you know mine.
We've had our doubts but now we're fine,
And I love you, I swear that's true.
I cannot live without you.
[x2]
Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.
And I still hold your hand in mine.
In mine when I'm asleep...
And I will bare my soul in time,
When I'm kneeling at your feet...
Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.
I'm so hollow, baby, I'm so hollow.
I'm so, I'm so, I'm so hollow.
I'm so hollow, baby, I'm so hollow.
I'm so, I'm so, I'm so hollow.
James Blunt, 2004, album: Back to Bedlam
Kamu tau.
Cintai pasanganmu dengan nama TuhanMu karena Ia tidak akan mengecewakanmu.
Published on Friendster: August 25, 2006 at 4:17 am
Alunan musik jazz menyerbu telinga saat kubuka pintu kamar. Buku berserakan di ranjang tanpa seprai. Baju kotor bergeletakan.
Aku berjalan menghampiri Astrid yang duduk di depan jendela. Jemari lentiknya memutar-mutar sebatang rokok putih. Tatapannya kosong. Kupungut remote di lantai dan menghentikan rayuan maut Michael Buble. Sorry, hansom, I'm not in the mood tonight.
"Gue hamil, Din."
Aku terpaku. Melirik ke arah Astrid yang perlahan menoleh ke arahku. Jejak air mata terlihat di pipi putihnya.
"Berapa minggu?"
"Tujuh minggu."
"Udah bilang Yos?" Astrid dan Yos bertunangan hampir dua tahun.
"Udah. Dia senang. Tapi ini bukan bayinya..."
Hhmm. Apa yang harus kukatakan? "Lo ga mau informed bapak bayi lo?"
"Dia bohongin gue, Din! Istrinya baru melahirkan sebulan yang lalu," Astrid tertawa sinis. "Dia bilang dia cinta gue..."
"Dia ga cinta lo, Trid. Dia cuma butuh lo karena istrinya hamil!"
"Tapi gue cinta dia..." Astrid berbisik. Kepalanya tertunduk.
Sepertinya begitu. Aku tidak pernah melihat Astrid menangis karena cinta. Seluruh hidupnya diperhitungkan dengan matang.
"Trus apa rencana lo?"
"Yos dan gue nikah bulan depan. Please jangan ngerusak masa depan bayi ini dengan sentimental kejujuran cinta yang selalu lo bilang ke gue."
"Apa ga terlalu egois untuk memutuskan persoalan sebesar ini sendirian?"
"Hidup jangan selalu pakai hati, Din. Sometimes hati harus mengalah sama rasio." Astrid bangkit dari duduk, menyodorkan rokok yang tidak disulutnya. "Mau? Gue harus jaga kandungan."
Aku menggeleng. "No, thanks."
"Apa kabar Hans?"
"Putus. Ada masalah yang ga bisa kita kompromikan."
"Sudahlah. Masih banyak cowok yang mau menerima lo apa adanya. By the way bantuin gue ngabisin large pizza ya? Nanti kita gendut bareng deeh..."
Kami terkekeh. Menertawakan bayangan dua sahabat kelebihan berat badan. Mengusir rasa gundah. Mengisi kembali kepercayaan diri.
Jariku lincah mengetik pesan seiring suapan besar pizza.
'Dear Zack. Hv been thinking abt ur offer. Will stay at ur place til delivery coz Hans really doesn't want this baby. Will call u 4 details 2night. Thx. Dini.'
-----
For my girlfriends: Be brave to say NO before it's TOO LATE!
Published on Friendster : August 16, 2006 at 7:12 am
Baru lewat senja saat aku berjalan menyusuri pasir putih yang terhampar. Angin semilir lembut menciumi daun-daun kelapa yang berlenggang genit. Ombak menderu, berkejaran mengikis pantai. Mengikis kehampaanku. Membawanya pergi jauh.
Lima minggu aku larutkan dalam pekerjaan. Mengamati dan mencatat pergerakan gelombang. Kebutuhan akan diam dan kesunyian membuatku meninggalkan kehidupan Jakarta yang hingar bingar. Kembali ke alam. Ke kesahajaanku.
“Cold drink?”
Kuambil minuman kaleng berembun itu. Mungkin bisa sedikit menyegarkanku.
“Everything’s normal today?”
Aku menganggukkan kepala. Hans sudah lebih lama tinggal di tempat terpencil ini. Meniti ombak besar sudah menjadi santapan sehari-hari. Aku ingin menyusuri pantai-pantai indah di Indonesia dan menuliskannya pada kolom petualanganku, katanya suatu hari.
“Watch football match last night?”
Aku menggeleng.
“You’re playing the new game ‘Guess what I’m thinking’, eh?”
Aku tertawa. “Garing!”
“What’s garing?”
“Hansom.”
“Oh, you’re so sweet.”
Kami berhenti di sebuah kedai kecil. Memesan dua porsi dada ayam kukus tanpa kulit, green salad dan jus mangga. Kebiasaan Hans yang aku adaptasi. Mendahulukan kebutuhan tubuh daripada kepuasan lidah. Tasteless tapi menyehatkan.
Hans bercerita tentang harinya. Bibirnya berceloteh dengan aksen yang khas. Mata hazelnya menari ekspresif sambil sesekali mengerenyitkan hidung. Sexy.
“I love you too, Dini.”
“Huh?”
“Your eyes speak a thousand words.” Ujung jari Hans menyentuh pucuk hidungku.
I don’t know, Hans. Terkadang mata ini memberikan harapan semu. Harapan yang kuharap dipenuhi oleh mimpi indah seorang petualang. Petualang yang kini masih mendahulukan hasrat rimbanya. Bukan hatinya.
“Take time as many as you need. Decide who’s best for you.”
Setitik air mata menetes di pipiku. “I wish I met you first so I don’t have to choose.”
Hans merengkuh tubuhku dalam peluknya. “Loving you is a precious gift, Dini. Just don’t let love slipped away. I’ll love you no matter what.”
Sinyal sms memecah kesunyian. New message.
‘I’ve tried to spend my days without you but I can’t. Your smiling face keep coming into my head. I miss you so much. Would you give me a second chance? Dave.’
Oh God, help!
for WD: you go, girl!
Published on Friendster June 15, 2006 at 11:47 pm
“Mas Indra?”
Suara cempreng di tengah hingar bingar musik café itu seperti kukenal.
“Mas Indra lupa sama Ajeng? Sombong deeh!”
Kuperhatikan gadis di depanku. Kulit terbakar matahari dengan rambut kemerahan. Poni miring. Mata coklat. Modis.
“Iiih, Mas Indra! Apa aku harus bilang kamu punya tai lalat di ketek kanan supaya kamu percaya?”
Senyumku melebar. “Ajeeng… Wow! You look hot!”
“Lebih hot dari gadis kampung bekas pacarmu?"
Ajeng dulu berkulit putih halus, rambut hitam sepunggung. Pacarku semasa kuliah di Solo. Sederhana. Pemalu.
“Kamu masih ganteng, Mas.” Senyumnya menggoda. Mungkin pergaulan Jakarta merubahnya.
Obrolan mengalir seperti air. Silih berganti dengan kentang goreng, kacang dan bir.
“Kok kamu belum kawin, Jeng? Sudah 35 lho!”
Deretan gigi rapi mengintip dari balik bibirnya. “Kamu yang 37 juga santai.”
“Tapi Bapakku di kampung mulai panik. Bulan lalu aku dikenalkan sama anak pak Kadus.”
“Cantik mana sama aku?”
“Kalau didandani seperti anak Jakarta, mungkin lebih ayu dari kamu.”
“Huu...” Bibirnya manyun. Masih seperti dulu. Manja.
“Memangnya kamu ga punya pacar, Mas?”
“Namanya Dwi. Tapi mungkin Bapak ga setuju.”
“Memangnya kamu bisa kawin sama orang yang baru kamu kenal?”
“Kasihan Bapak sakit-sakitan terus, Jeng. Mungkin kalau aku sedikit kompromi, Bapak bisa lebih tenang dan ga banyak pikiran.”
Tangannya mengusap lembut punggung tanganku. “Kamu anak baik, Mas.”
“Lantas apa alasan kamu masih single?” Wanita secantik kamu sepantasnya sudah lama dipinang orang dan mungkin sudah beranak tiga.
Asap putih keluar dari bibir sexynya. “Orang tuaku ga setuju sama pilihanku. Dan aku belum siap mengalah demi keluarga.”
“Mengalah bagaimana? Putus dari pacar atau kawin tanpa cinta?”
“Both.”
Kebetulan. “Kamu mau kawin sama aku, Jeng?”
Alis kirinya naik. “What??”
“Aku harus menyenangkan hati Bapak. Kamu juga harus menjaga harga diri keluarga. Kalau setelah menikah aku masih bareng sama Dwi dan kamu sama pacarmu, ga apa-apa kan? Toh kehidupan perkawinan kita hanya kita yang tau.”
“Edan!”
“Apa ga lebih edan kalau kita selalu menjadi kambing hitam karena kita belum kawin?”
Ajeng terdiam. Rokok semakin dalam dihisapnya. “Jadi kamu siap kawin bohongan?”
“Tergantung. Kamu masih malu-malu ga kalau minta cium?”
Kami tertawa mengenang masa lalu yang lugu.
“Siapa nama pacarmu?”
“Kris.”
“Dia ga cemburu kalau kita kawin?”
“Kayaknya ga.” Ajeng membuka agenda kerja dan menyodorkan sebuah foto padaku. “This is Kris. I’m lesbian.”
Mantan pacarku tidak lagi mencintai laki-laki. Great.
“By the way, Dwi ga cemburu kalau kita kawin?”
Aku tertawa lebar. “That’s ok.” Kucabut foto Dwi dari dompet.
“By the way, I’m gay.”
Published on Friendster June 5, 2006 at 10:01 pm
Semburat merah masih tersisa di ujung langit. Angin senja bertiup kencang seiring curahan deras hujan. Kelam. Dingin. Bertolak belakang dengan tubuh sexy yang menempel erat pada tubuhku. Tangannya yang lentik menari-nari di atas dada dan pahaku. Bibir mungilnya yang basah mendesah, “Ga biasanya kamu diam seperti ini, Jo. Ada apa? Katanya kamu punya sesuatu untuk aku…”
Kepalanya terbangun dari pundakku. Menoleh. Sinar matanya, Tuhan, begitu banyak rasa yang terlukis di sana. Semua rasa yang ingin aku rengkuh dalam peluk. Selamanya. Apakah ini akhir sebuah penantian panjang yang kuinginkan?
“Jo…”
Kuhela napas panjang diiringi tawa renyahnya. Tangannya meraihku, bibirnya mengecup lembut telingaku. Hhmm… Tuhan, aku menyerah! Aku mencintainya.
“San…”
“Iya, Pujo sayang…”
“Aku mencintaimu, San.”
“Terus…?”
Kutatap matanya dalam. “A k u m e n c i n t a i m u, S a n d r a.”
Bibirnya tersenyum. “Playboy jatuh cinta? Come on…”
Kuraih cincin dalam kantong celanaku. Sandra terkejut. Badannya menjauh. Mata indahnya terbelalak.
“Aku ingin menghabiskan sisa hidup bersama kamu, San. Membesarkan anak-anak kita. Menikah denganku?”
…
Hening.
“Aku ga bisa, Jo.”
Tawaku menggantung di udara. Semua wanita mau kujadikan kekasih tapi Sandra menolak kunikahi. Tuhan, lelucon apa ini? Garing!!
“Aku tau kamu mencintaiku, San. Semua tingkah lakumu menunjukkan itu.”
“Bukan itu, Jo.”
“Aku sayang kamu, San. Aku serius ingin menikahimu. Cuma kamu yang bisa mengerti aku. Kamu wanita terakhir dalam hidupku, San.”
Kepalanya menggeleng. “Bukan karena kamu, Jo, aku…”
“Aku ga nuntut apapun selain cinta kamu, San. Aku ga peduli status, harta ataupun virginitas kamu. Cintaku sangat besar untuk menerima apapun keadaan kamu.”
“Tapi kamu ga akan bisa nerima ini, Jo.”
“Apa lagi yang ga bisa aku terima, San? Kamu…”
“Pujo!” Sinar matanya nanar. Kalut.
“Aku waria, Jo…”
Published on Friendster blog on May 31, 2006 at 3:37 am