Rabu, 13 April 2011

Usia Bagi Wanita

Jangan pernah menanyakan berapa usia seorang wanita tanpa jelas tujuannya dan tanpa disertai kata maaf. Tidak sopan. Jika mau aman, taksir saja usianya, kurangi lima sampai sepuluh tahun. Lalu ketika ia menyebutkan usianya, pasang muka terkejut sambil bilang, “Really?? Awet muda ya, jeng... Boleh dong bagi-bagi resepnya..”

Mengapa usia begitu sensitif bagi wanita?

Seperti yang kualami hari ini. Seorang wanita berbisik ketika petugas menanyakan usianya untuk keperluan medis. Ketika petugas memintanya mengulangi, ia menjawab dengan agak gusar, “Duuh... 36! Apa perlu saya ngomong pake toa?” Uppss!!

Atau pernah seorang teman gusar ketika muncul kerut2 halus di seputar matanya. “Duuh.. tanda-tanda penuaan niiy.. Susah deh kalo umur udah kepala 3!”

Tak perlu dijelaskan berapa banyak yang semua wanita lakukan, termasuk diriku, untuk menutupi usia. Mengecat rambut, mendempul tebal wajah, mengoles berbagai macam krim anti aging, atau hanya sekedar memakai baju trendy ala remaja sampai suntik colagen, botox, dan face lift.

Tapi pernahkan kita berhenti sejenak dan berpikir mengapa kita melakukan itu? Pernahkah kita berpikir bahwa kita tidak bisa selamanya bertopeng kosmetik? Beranikah kita mencoba untuk jujur pada diri sendiri dan menerima proses penambahan usia yang terjadi pada kita?



Aku berani. Karena aku yakin.
Aku dinilai karena integritasku. Bukan karena kosmetikku. Bukan karena usiaku.

Aku wanita.
Dengan cuatan uban di sana-sini. Dengan kulit muka yang mulai menurun dan lipatan lemak sisa melahirkan.

Aku 35 tahun.

Kamu?


Published on Facebook: April 25, 2009 at 23:34
pic: www.stylishandtrendy.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...