Semburat merah masih tersisa di ujung langit. Angin senja bertiup kencang seiring curahan deras hujan. Kelam. Dingin. Bertolak belakang dengan tubuh sexy yang menempel erat pada tubuhku. Tangannya yang lentik menari-nari di atas dada dan pahaku. Bibir mungilnya yang basah mendesah, “Ga biasanya kamu diam seperti ini, Jo. Ada apa? Katanya kamu punya sesuatu untuk aku…”
Kepalanya terbangun dari pundakku. Menoleh. Sinar matanya, Tuhan, begitu banyak rasa yang terlukis di sana. Semua rasa yang ingin aku rengkuh dalam peluk. Selamanya. Apakah ini akhir sebuah penantian panjang yang kuinginkan?
“Jo…”
Kuhela napas panjang diiringi tawa renyahnya. Tangannya meraihku, bibirnya mengecup lembut telingaku. Hhmm… Tuhan, aku menyerah! Aku mencintainya.
“San…”
“Iya, Pujo sayang…”
“Aku mencintaimu, San.”
“Terus…?”
Kutatap matanya dalam. “A k u m e n c i n t a i m u, S a n d r a.”
Bibirnya tersenyum. “Playboy jatuh cinta? Come on…”
Kuraih cincin dalam kantong celanaku. Sandra terkejut. Badannya menjauh. Mata indahnya terbelalak.
“Aku ingin menghabiskan sisa hidup bersama kamu, San. Membesarkan anak-anak kita. Menikah denganku?”
…
Hening.
“Aku ga bisa, Jo.”
Tawaku menggantung di udara. Semua wanita mau kujadikan kekasih tapi Sandra menolak kunikahi. Tuhan, lelucon apa ini? Garing!!
“Aku tau kamu mencintaiku, San. Semua tingkah lakumu menunjukkan itu.”
“Bukan itu, Jo.”
“Aku sayang kamu, San. Aku serius ingin menikahimu. Cuma kamu yang bisa mengerti aku. Kamu wanita terakhir dalam hidupku, San.”
Kepalanya menggeleng. “Bukan karena kamu, Jo, aku…”
“Aku ga nuntut apapun selain cinta kamu, San. Aku ga peduli status, harta ataupun virginitas kamu. Cintaku sangat besar untuk menerima apapun keadaan kamu.”
“Tapi kamu ga akan bisa nerima ini, Jo.”
“Apa lagi yang ga bisa aku terima, San? Kamu…”
“Pujo!” Sinar matanya nanar. Kalut.
“Aku waria, Jo…”
Published on Friendster blog on May 31, 2006 at 3:37 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar