Baru lewat senja saat aku berjalan menyusuri pasir putih yang terhampar. Angin semilir lembut menciumi daun-daun kelapa yang berlenggang genit. Ombak menderu, berkejaran mengikis pantai. Mengikis kehampaanku. Membawanya pergi jauh.
Lima minggu aku larutkan dalam pekerjaan. Mengamati dan mencatat pergerakan gelombang. Kebutuhan akan diam dan kesunyian membuatku meninggalkan kehidupan Jakarta yang hingar bingar. Kembali ke alam. Ke kesahajaanku.
“Cold drink?”
Kuambil minuman kaleng berembun itu. Mungkin bisa sedikit menyegarkanku.
“Everything’s normal today?”
Aku menganggukkan kepala. Hans sudah lebih lama tinggal di tempat terpencil ini. Meniti ombak besar sudah menjadi santapan sehari-hari. Aku ingin menyusuri pantai-pantai indah di Indonesia dan menuliskannya pada kolom petualanganku, katanya suatu hari.
“Watch football match last night?”
Aku menggeleng.
“You’re playing the new game ‘Guess what I’m thinking’, eh?”
Aku tertawa. “Garing!”
“What’s garing?”
“Hansom.”
“Oh, you’re so sweet.”
Kami berhenti di sebuah kedai kecil. Memesan dua porsi dada ayam kukus tanpa kulit, green salad dan jus mangga. Kebiasaan Hans yang aku adaptasi. Mendahulukan kebutuhan tubuh daripada kepuasan lidah. Tasteless tapi menyehatkan.
Hans bercerita tentang harinya. Bibirnya berceloteh dengan aksen yang khas. Mata hazelnya menari ekspresif sambil sesekali mengerenyitkan hidung. Sexy.
“I love you too, Dini.”
“Huh?”
“Your eyes speak a thousand words.” Ujung jari Hans menyentuh pucuk hidungku.
I don’t know, Hans. Terkadang mata ini memberikan harapan semu. Harapan yang kuharap dipenuhi oleh mimpi indah seorang petualang. Petualang yang kini masih mendahulukan hasrat rimbanya. Bukan hatinya.
“Take time as many as you need. Decide who’s best for you.”
Setitik air mata menetes di pipiku. “I wish I met you first so I don’t have to choose.”
Hans merengkuh tubuhku dalam peluknya. “Loving you is a precious gift, Dini. Just don’t let love slipped away. I’ll love you no matter what.”
Sinyal sms memecah kesunyian. New message.
‘I’ve tried to spend my days without you but I can’t. Your smiling face keep coming into my head. I miss you so much. Would you give me a second chance? Dave.’
Oh God, help!
for WD: you go, girl!
Published on Friendster June 15, 2006 at 11:47 pm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar