Alunan musik jazz menyerbu telinga saat kubuka pintu kamar. Buku berserakan di ranjang tanpa seprai. Baju kotor bergeletakan.
Aku berjalan menghampiri Astrid yang duduk di depan jendela. Jemari lentiknya memutar-mutar sebatang rokok putih. Tatapannya kosong. Kupungut remote di lantai dan menghentikan rayuan maut Michael Buble. Sorry, hansom, I'm not in the mood tonight.
"Gue hamil, Din."
Aku terpaku. Melirik ke arah Astrid yang perlahan menoleh ke arahku. Jejak air mata terlihat di pipi putihnya.
"Berapa minggu?"
"Tujuh minggu."
"Udah bilang Yos?" Astrid dan Yos bertunangan hampir dua tahun.
"Udah. Dia senang. Tapi ini bukan bayinya..."
Hhmm. Apa yang harus kukatakan? "Lo ga mau informed bapak bayi lo?"
"Dia bohongin gue, Din! Istrinya baru melahirkan sebulan yang lalu," Astrid tertawa sinis. "Dia bilang dia cinta gue..."
"Dia ga cinta lo, Trid. Dia cuma butuh lo karena istrinya hamil!"
"Tapi gue cinta dia..." Astrid berbisik. Kepalanya tertunduk.
Sepertinya begitu. Aku tidak pernah melihat Astrid menangis karena cinta. Seluruh hidupnya diperhitungkan dengan matang.
"Trus apa rencana lo?"
"Yos dan gue nikah bulan depan. Please jangan ngerusak masa depan bayi ini dengan sentimental kejujuran cinta yang selalu lo bilang ke gue."
"Apa ga terlalu egois untuk memutuskan persoalan sebesar ini sendirian?"
"Hidup jangan selalu pakai hati, Din. Sometimes hati harus mengalah sama rasio." Astrid bangkit dari duduk, menyodorkan rokok yang tidak disulutnya. "Mau? Gue harus jaga kandungan."
Aku menggeleng. "No, thanks."
"Apa kabar Hans?"
"Putus. Ada masalah yang ga bisa kita kompromikan."
"Sudahlah. Masih banyak cowok yang mau menerima lo apa adanya. By the way bantuin gue ngabisin large pizza ya? Nanti kita gendut bareng deeh..."
Kami terkekeh. Menertawakan bayangan dua sahabat kelebihan berat badan. Mengusir rasa gundah. Mengisi kembali kepercayaan diri.
Jariku lincah mengetik pesan seiring suapan besar pizza.
'Dear Zack. Hv been thinking abt ur offer. Will stay at ur place til delivery coz Hans really doesn't want this baby. Will call u 4 details 2night. Thx. Dini.'
-----
For my girlfriends: Be brave to say NO before it's TOO LATE!
Published on Friendster : August 16, 2006 at 7:12 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar